Menyama Braya Jadi Tali Pengikat Persaudaraan Hindu-Islam di Bali

ayobali

Konsep Menyama braya di Bali telah menjadi semacam tali pengikat persaudaraan antara umat Hindu dan Islam di Bali. Istilah menyama braya juga telah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis yang masih dijunjung tinggi umat Hindu dan Islam di Bali.Demikian terungkap dalam artikel ilmiah berjudul “Relasi Islam Dan Hindu, Perspektif Masyarakat Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Al-Ulum, Volume 12, Nomor 1, Tahun 2012. Artikel tersebut ditulis oleh I Gede Suwindia dari UGM Yogyakarta, Machasin dari UIN Sunan Kalijaga dan I Gede Parimartha  dari Universitas Udayana.
Gede Suwindia dan kawan-kawan menuliskan konsep “menyamabraya” menjadi semacam modal sosial masyarakat Bali dari zaman ke zaman yang tetap terpelihara dengan baik hingga saat ini. Menyamabraya adalah sebuah konsep “kesemestaan” yaitu bagaimana seseorang memandang orang lain adalah sebagai saudaranya sendiri bukan sebagai “the other” atau orang lain.Warga masyarakat yang beragama Hindu menyebutkan mereka yang beragama Islam adalah sebagai “Nyame Selam” atau saudara yang beragama Islam. Sedangkan mereka yang beragama Islam menyebut umat Hindu sebagai “Nyame Bali” atau saudara yang beragama Hindu.
"Menyama Braya” adalah modal sosial masyarakat Bali. Modal sosial yang tumbuh dan berkembang menjadi sebuah warna peradaban dan menjadi tali pengikat layaknya “kesepakatan tidak tertulis dan dijunjung tinggi” Islam dan Hindu di daerah ini.
Gede Suwindia dan kawan-kawan juga menuliskan kekhasan dari pola interaksi Islam dan Hindu tersebut dapat menawarkan bentuk toleransi secara intern dan juga ekstern dalam mensiasati bagaimana sesungguhnya kerukunan antar umat beragama terbangun.

Adanya pola-pola kerjasama yang merupakan pengejawantahan dari semangat kebersamaan, ditambah lagi dengan adanya latar belakang kekerabatan, semakin menampakkan kekhasannya.

Banyak aktivitas keseharian warga Islam dan Hindu dalam hal ini terkait dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan senantiasa sangat tertata.

Komentar